Showing posts with label Religi. Show all posts
Showing posts with label Religi. Show all posts

Mencintai tanpa bisa bersama, apa namanya?

|

Well, cinta. Sebuah kosakata yang sampai sekarang saya cari maknanya dan bentuknya. Dia hanya sebuah kata sifat, yang saya pun belum yakin sudah seutuhnya memilikinya. Iya, cinta itu apa? Yang saya tahu mencintai berarti harus memiliki, harus bersama. Omong kosong jika mencinta tapi tidak mau bersama.

Kita mengaku-ngaku mencintai Alloh atau mengaku ingin mencintaimu karena Alloh. Ahh, sepertinya indah sekali diucap, tapi action-nya? Sudahkah kita melakukannya? Saya tidak ingin menceramahi apalagi menggurui. Sayapun masih hanya sebatas lafal, action? Masih jauh dari sempurna.

Saya mengagung-agungkan bahwa saya sangat mencintai Alloh, namun nyatanya? Saya masih suka mengingkari-Nya. Saya masih suka melakukan hal-hal yang pasti dilarang-Nya. Saya masih suka menduakan cinta-Nya. Duh Gusti, ampuni saya. Saya hanya seonggok daging yang Kau berikan nafas didalamnya, yang Kau berikan hati untuk selalu menimbang mana yang baik dan buruk, tanpa campur tanganMu? Ahh, saya tak sanggup menulisnya, T.T.

Bahkan, untuk menulis ini pun, masih terselip rasa sombongnya saya sebagai manusia yang haus akan pujian dari sesame makhlukMu. Sungguh hinanya saya dimatamu. Apa yang saya cari? Saya hanya mengharap RidhaMu Yaa Illahi Rabbi. Tapi apa yang telah saya lakukan? Saya lebih banyak melakukan apa yang tidak Engkau Ridhai Yaa Rabb, Astaghfirulloh.

Jika kita sudah ber-statement bahwa mencintai harus selalu bersama, lalu kapankah kita mau bersamaNya? Disaat azan memanggil, kita masih sibuk mengurusi kerjaan kita, masih sibuk mengurusi perut kita. Disaat Dia menyedian waktu untuk bercengkerama denganNya disaat tidak ada satupun yangmampu mendengar keluh kisah kita, mendengar tangisan sedih maupun bahagia kita, kita malah sibuk bermimpi dibawah hangatnya kasur. Katanya kalau cinta maunya bersama? Tapi merelakan waktu untuk bersamaNya saja masih malas? Segitu besarnyakah cintamu?

Saya teringat sebuah tulisan dari buku yang ditulis oleh Mba Rindu Ade judulnya “Perempuan Pencari Tuhan”

Tak ada satu cinta pun di dunia ini yang mampu mematahkan hati manusia jika cinta Alloh di atas segalanya.

Sungguh, menduakan cinta Alloh menjadikan cinta itu berhala.

Well, ngeri yaa jika kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita pada Alloh. Menduakan cinta kita pada Yang Maha Pemberi.

Ahh, saya tidak mau berpanjang kali lebar. Saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri. Saya saja masih salah memaknai cinta saya padaNya? Apalagi cinta saya pada selainNya? Yaa Rabb, ijinkan saya menulis ini. Berilah saya kekuatan untuk terus menulis apa yang baik.

Sekali lagi, saya menulis ini bukan maksud untuk menggurui ataupun menceramahi. Ada orang-orang yang lebih hebat dari saya. Saya hanya ingiin mengingatkan siapa diri saya, yang tidak lebih seorang makhluk yang dipinjami kehidupan olehNya.

 

Jakarta, 19 April 2014, 06.30 AM

What I am looking for?

|

 
Sejenak aku terpaku dengan pertanyaan diatas. Sesungguhnya, apa yang aku cari? Iya, apa yang aku cari? Atau mungkin dari semua pembaca ingin mengutaran apa yang kalian cari?

Sedikit ambigu memang pertanyaan ini. Banyak yang bisa kita cari dan akan kita jadikan alasan untuk sesuatu, bertahan akan keadaan misalnya.

Setiap dari kita pasti menginginkan sebuah goal atau suatu pencapaian yang diinginkan, misalnya pencapaian kebahagiaan. Level tertinggi dalam kehidupan seseorang yang ingin dicari apakah yang lebih berharga dari sebuah kebahagiaan?

Setiap orang tidak terkecuali saya pasti menginginkan kebahagiaan. Bukan hanya sebatas kebahagiaan semu yang bisa kita dapatkan sejenak. Tapi kebahagiaan yang sifatnya kekal dan mengikat. Bukankah begitu?

Lantas kebahagiaan apa yang sifatnya abadi?

Jika kita hanya berpikiran sebatas kehidupan dunia, kebahagiaan itu pastilah semu, kita akan selalu merasa kurang dan kurang dan untuk itu dianjurkannya kita untuk bersyukur. Agar apa-apa yang kita beroleh itu tidak hanya membuat kita cukup tapi juga bahagia. Tengoklah jika masih ada mimpi atau cita-cita yang ingin kau raih, kau pasti berupaya untuk bisa mewujudkannya bukan? Setelah terwujud, pastilah kau akan bahagia.

Menilik tentang kebahagaiaan abadi. Kebahagiaan abadi bisa diperoleh di akhirat (bagi umat moslem tentu tau ini, jika ada dua kehidupan yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat). Kehidupan akhirat adalah sekekal-kekalnya kehidupan bagi kita. Semua makhluk yang diciptakan oleh Alloh SWT.

Tujuan kehidupan di dunia adalah untuk mencari bekal yang akan kita bawa ke akherat nantinya. Lantas bagaimana caranya? Kita hanya focus memikirkan akherat tanpa ada kemajuan dan kemauan untuk akherat?

Hmmm, jangan langsung merasa bahwa kita harus benar-benar focus untuk mengejar akherat lantas melupakan kewajiban yang kita emban di dunia. Caranya bagaimana?

Alloh sudah mengakomodir semua kebutuhan makhlukNya, bahkan untuk mengenai cara beribadah kepadanya. Seperti ini, kita bekerja, kalau kita kerja hanya sekedar tanpa value plus yang ingin ditambah, tentulah kerja kita hanya sebatas mendapat gaji, pengalaman, pikiran dan tenaga yang terkuras untuk bekerja.

Tapi, hal itu akan berbeda jika meniatkan “ibadah” dalam kerja kita. Iyaa, kita niatkan ibadah semata untuk mengharap ridho dari Alloh, agar apa-apa yang kita kerjakan mendapatkan pahala dariNya. Pernah saya curhat dengan seorang rekan saat saya bertanya “bagaimana caranya agar bisa istiqomah dalam meniatkan kerja untuk ibadah? Seperti apa sebenarnya bekerja untuk ibadah itu?”

Secara bijak beliau mencontohkan “bekerja untuk ibadah itu kita menomorduakan pekerjaan, seolah-olah kita bekerja itu untuk menunggu waktu beribadah selanjutnya, bukan kita solat disaat break pekerjaan”. Hmm, sebuah mindset yang bagus, perubahan mindset yang bisa dimulai dari diri kita sendiri, dimana menjadikan pekerjaan sebagai selingan untuk menunggu waktu beribadah kepada Alloh. Subhanalloh. Betapa baiknya Alloh kepada hambaNya.

Sehingga, menurut praktisnya, niatkan sesuatu untuk beribadah kepada Alloh, bukankah Alloh sendiri yang berfirman “..dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”. insyaAlloh, kita tidak hanya mendapatkan keuntungan secara ragawi tapi juga rohani. Wallohu A’lam.

Jadi, hanyalah kebahagian hakiki yang seharusnya kita cari, tidak kurang dan tidak lebih. Apalah artinya kita bahagia didunia dengan banyaknya harta yang melimpah jika memperolehnya dengan cara yang kurang tepat, dan apalah artinya semua kebahagian di dunia yang hanya semu dan sementara? Jika nantinya di akhirat kita tersiksa di neraka?

 

Jakarta, 3 Desember 2013, Kost-an

 

Fenomena Menikah di Bulan Dzulhijjah

|
Assalamualaikum wr wb



Hi guys, apa kareba? Di libur malam tahun baru Islam, alangkah baiknya saya menuntaskan “PR” saya dari tahun lalu yang belum sempat saya bahas lagi. Padahal bulannya itupun sudah lewat, xixixixi. tapi tak mengapa, dibanding saya punya tanggungan penjelasan kepada kalian semua. Yaa, fenomena itu adalah nikah di bulan Dzulhijjah.
           Bulan Dzulhijjah untuk orang Jawa dikenal dengan “Bodo Besar”1). Dimana umat Islam merayakan sebuah perayaan yang sangat agung, hari raya berqurban. Siapaun yang mampu bisa berqurban, baik sapi ataupun kambing. Saya rasa pembahasan harus langsung masuk saja ke topic awal, karena ini sudah pernah saya bahas di postingan sebelumnya (link, red).

Berbicara mengenai menikah, siapa yang disini belum menikah? *tunjuk diri sendiri, hehehe. Yaa, bahasan yang selalu ngetrend bagi para kawula muda, terutama saat acara-acara besar keluarga, keluarga apapun. Yang ditanyakan pasti “kapan menikah?”. Ehem, bagi yang sudah punya calon pastinya dengan gampang akan senyum dan bilang “here it is” bagi yang belum, banyak-banyak minta do’a saja, supaya diberikan yang terbaik di saat yang terbaik. Bukankah begitu wajarnya?

Well, dalam Islam, menikah itu dianggap ibadah yang dapat menggenapkan separuh dien (agama, red). Waw, hebat bukan? Dengan menikah kita sudah mendapat pahala yang sebesar itu, bahkan ini juga sunnah Rosul. Sampai pernah ada hadist yang menyatakan bahwa “siapa yang tidak mau menikah, berarti dia tidak golonganku” seperti itu intinya, CMIIW yaa.

Saya pernah membaca, tahapan menikah itu antara lain (jika ada yang kurang bisa ditambahi):

1.      Ta’aruf

Siapa yang tidak tahu menahu tentang ta’aruf? Dalam Islam, tidak mengenal istilah pacaran. Jadi, jika orang yang sudah berkeinginan dan mampu untuk menikah, diwajibkannya untuk menikah. Dalam proses iringan sebelum menikah, ada juga tahapannya yakni ta’aruf.

Ta’aruf adalah proses untuk mengenal satu sama lain tanpa berpacaran. Ta’aruf sangat menjaga hubungan baik dari kedua belah pihak. Jika salah satunya sudah tidak setuju, maka bisa langsung batal ta’arufnya saat itu juga.

Saat melakukan proses ta’aruf, harus ada yang mendampingi dalam kedua belah pihaknya. Dikarenakan untuk menghindari fitnah. Adapun yang dapat mendampinginya bisa guru ngaji.
 

2.      Khitbah

Setelah acara ta’aruf selesai dan yakin nih, si cowok secepatnya saja dating untuk mengkhitbah atau meminang calon yang diinginnya. Segera temui wali, utarakan keinginan dan tetapkan tanggal yang sesuai dengan kesepakatan.

Tidak ada jeda waktu pasti dari ta’aruf-khitbah hingga ijab, sebaiknya memang disegerakan, karena dikhawatirkan terjadi fitnah. Wallohu a’lam.
 

3.      Akad Nikah

Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara kedua belah pihak dalam bentuk ijab dan qabul.

Ijab biasanya diucapkan oleh wali yang akan menikahkan (bisa orang tua langsung atau diwakili oleh penghulu)

Qabul adalah pernyataan kesediaan (penerimaan) dari pihak yang menginginkan (dalam hal ini adalah si pria yang menikahi).

Setelah dilangsungkan ijab qabul, si wanita sudah sah menjadi istri si lelaki, dapat dilanjutkan dengan acara sesuai dengan budaya dan kebiasaan masing-masing (seperti sungkeman, foto bersama atau langsung walimatul ‘ursy).
 

4.      Walimatul “Ursy

Istilah gampangnya untuk walimatul ‘ursy ini adalah resepsi. Hukumnya sunnah, jika dilaksanakan yaa bisa mendapat pahala, jika tidak juga tidak mengapa. Sebenarnnya diadakan walimatul ‘ursy ini sendiri untuk memberikan kabar pernikahan mempelai agak tidak menjadikan fitnah di kemudian hari.

Demikian penjelasan singkat saya mengenai pernikahan dalam Islam. Well, tidak seberapa yang bisa saya sharing, saya ada agenda lain untuk menuntut ilmu lagi, jadi kalau nanti ada sesuatu yang bisa ditambah, monggo ditambah, kita sama-sama tukar ilmu dan pikiran yaa guys.

Sayapun masih cethek ilmunya, masih haus akan ilmu, jadi sama-sama belajar buat jadi orang yang berilmu dan berbagi. Semangat!!!!!!!

Wassalamualaikum wr wb
 
 1). Bodo besar : hari raya besar
 

Jakarta, Malam tahun baru Islam 1435 H.

My gorgeous hijab story

|


Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Bukan hal baru saya berkenalan dengan jilbab atau hijab untuk istilah yang lebih populer digunakan oleh sebagian muslimah di Indonesia bahkan di dunia saat ini. Yaa, sudah sejak kecil saya mengenal dan sudah barang tentu (hampir) setiap hari menggunakannya. Ini dikarenakan sejak kecil saya sudah berada dan diperkenalkan dengan lingkungan madrasah (istilah sekolah) untuk mengisi waktu luang diluar waktu sekolah formal.

Awalnya memang berat dan sangat berat jika saya harus menggunakan pakaian yang serba tertutup, apalagi saat itu saya masih tergolong kecil. Jadi waktu saya masih duduk di bangku SD, saya hanya memakai hijab untuk pergi ke madrasah dan mengaji saja. Dan dari orang tua juga tidak melarang secara langsung, jadi saya masih enjoy-enjoy saja berkeliaran tanpa menggunakan hijab untuk sekedar keluar rumah selain pergi mengaji dan ke madrasah. Hal ini masih berlangsung hingga saya memasuki jenjang SMP, kebetulan saya tidak bisa masuk ke sekolah negeri favorit saya, sehingga saya mendaftar di Mts (Madsrasah Tsanawiyah) yang setara dengan SMP dan tentunya ilmu agamanya lebih banyak dibandingkan dengan sekolah di SMP negeri.

Saat duduk di bangku SMP pun, saya masih setengah-setengah memakai hijabnya. Jadi seperti “memakai karena tuntutan”. Yaa, saya menyebutnya seperti itu, dikarenakan saya hanya memakai saat sekolah saja, selebihnya saat saya keluar rumah untuk les, mengunjungi saudara atau main bersama teman-teman, sudah tentu saya tidak menggunakan hijab. Astaghfirulloh, :(.

Mungkin memang benar jika masa remaja itu masa yang tidak dapat ditawar lagi atau tepatnya masa yang tidak bisa diganggu gugat keinginannya. Bagaimanapun masa remaja adalah masa disaat kita mulai bertumbuh menjadi seseorang yang (akan) matang, jadi masih “labil”. Tentu, saat masa ini, kita tidak dapat dipaksa untuk sesuatu yang bukan menjadi keinginan kita, dan tentu pasti akan melawan. Mungkin pikiran saya saat itu sama dengan teman-teman yang lain, dimana kita ingin “bebas” tanpa ada halangan apapun untuk melakukan segala aktifitas yang sangat amaze buat seusia saya dan teman-teman pada waktu itu. Saya berfikir dan khawatir dengan menggunakan hijab dan baju serba tertutup pasti akan menghalangi saya dalam beraktifitas.

Alhamdulillah, orangtua saya tidak menuntut banyak, hanya saja selalu mengingatkan untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat untuk yang lain. Pun tidak pernah memaksa saya untuk selalu istiqomah dalam memakai hijab saya saat itu.

Akan tetapi, yang namanya hidayah dari Alloh itu selalu datang sesuai dan pas saat waktunya. Saat itu saya bergetar membaca sebuah hadist yang intinya tentang balasan yang akan diterima oleh orangtua kita apabila tidak dapat mendidik anak-anaknya dengan baik dan benar, termasuk yang membuat saya merinding adalah tentang menutup aurot. Ditambah lagi dengan hadist Rasululloh yang menceritakan kepada Ali dan Fatimah tentang wanita-wanita penghuni neraka, dimana salah satunya adalah mereka yang tidak menutup auratnya. MasyaAlloh.

Setelah menginjak SMA, saya meluruskan niat dan kaffah untuk terus berhijab sampai saya kuliah dan bekerja saat ini, dan akan terus sampai saya menghembuskan nafas terakhir, InsyaAlloh. Apa yang saya fikirkan dan khawatirkan saat saya masih setengah-setangah dalam menggunakan hijab dulu, itu salah besar dan tidak sesuai dengan apa yang saya fikirkan atau khawatirkan. Saya tetap bisa mengikuti dan menjalani semua aktifitas yang saya sukai tanpa ada halangan apapun, bahkan saya merasa sangat aman dan nyaman apabila saya terus menggunakan hijab saya kemanapun saya pergi dan beraktifitas. Bahkan Alloh selalu memberi lebih dari apa yang saya pikirkan dan harapkan. Rejeki yang Dia berikan memang tak pernah tertukar dan selalu datang pas saat waktunya.

Salah satu hal yang saya gemari sekarang adalah berkreasi dengan hijab dan fashion. Ini bermula saat saya terpilih menjadi ketua untuk acara workshop jilbab yang diadakan oleh rohis perusahaan dimana saya bekerja. Berawal dari situ, saya mendapat tawaran dari perusahaan lain (yang masih tergabung dalam satu grup perusahaan) untuk menjadi mentor hijab dan pengisi acara. Subhanalloh.


Alhamdulillah, ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan penting bagi saya untuk dapat membantu dan menyalurkan ilmu kepada para muslimah yang ingin tampil cantik dan tetap stylish dalam setiap aktivitas, terutama bagi muslimah pekerja kantoran maupun pabrikan. dimanapun kita berada, jangan pernah lupakan "identitas" kita wahai muslimah. keep on it!!!

Satu hal yang sangat berkesan dari pelajaran hidup saya selama ini adalah, penanaman nilai-nilai moral agama sejak itu sangat penting bagi anak-anak untuk bekal kedepannya dan sebagai benteng untuk tetap istiqomah di jalan Alloh. Dan hijab, bagi muslimah, bukan hanya selembar kain penutup kepala, tetapi juga sebagai identitas diri akan cintanya kita kepada Alloh yang diwujudkan dengan menutup aurat kita. Bukan tanpa alasan Alloh memerintahkan kita untuk menutup aurat, itu dikarenakan saking cintanya Alloh kepada kita, hambanya, agar terhindar dan terjaga kehormatannya. Wallohu A'lam.

Demikian cerita saya, semoga dapat bermanfaat dan memberi inspirasi untuk yang lain.

Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Novita Rosyida Hilmi

Bumi Alloh
|

Seminar Pranikah “Suci Cinta, Raih bahagia”

|

Assalamualaikum wr wb,

Hello everybody, hello Sunday. Mau sharing nih tentang hari mingguannya aku (sok artis banget, hehehe). Di hari minggu ini, aku dan teman-teman menghadiri sebuah seminar yang mungkin sangat sensitive bagi wanita seusia aku (uhuk) dan memang sudah masa-masanya pengen kali yah, :P. yak, aku sama teman-teman kantor, mengikuti sebuah seminar pra nikah yang diadakan oleh APWA (arRahman Pre Wedding Academy), sebuah lembaga non formal yang memberikan semacam les-les untuk menuju rumah tangga dan mengurusi rumah tangga yang Islami. Siapa yang mau join? Seminar ini dilaksanakan di Smesco UKM.

Academy ini digagas oleh seorang Ustadz yang sangat familiar, yaitu Ustadz Bactiar Natsir. Dan akademi digelar selama 3 bulan, setiap weekend, bagi yang berminat bisa langsung ke AQL (Arrohman Qur’an Learning centre, for more information).
Sekarang aku ingin membahas saja yah tentang apa yang aku dapat di seminar tadi,semoga bermanfaat dan syukur-syukur kalau ada yang menerapkan, . Di seminar ini terdapat 4 pembicara, mari kita bahas satu-satu:

  1. Shofwan Al Banna
Jujur saja, sebenarnya untuk 2 pembicara di awal (ustadz Al banna dan Bachtiar) aku tidak begitu menyimak karena aku setengah sadar, alias ngantuk berat coy, tetiba tertidur, hohoho, maaf yaa guys, jadi gak bisa share semuanya. Tapi aku nangkep intinya sih.

Jadi, untuk Ustadz Al Banna, penekanan lebih pada makna cinta yang hakiki, dan bagaimana cinta itu, serta nantinya cinta itu bermuara dimana agar tidak salah kaprah penggunaannya. #ihir,aku masih inget

Jadi, kenapa sekarang marak kasus remaja-remaja yang galau karena setelah patah hati atau gimana, itu karena mereka salah atau belum faham dimana harus menempatkan cinta itu.

Solusi yang ditawarkan untuk orang yang sedang dilanda cinta memang menikah, tapi tidak juga dengan hanya sekedar jatuh cinta kita lantas menikah, karena pernikahan menyangkut berbagai aspek yang sangat penting, untuk tercapainya keluarga yang samara (sakinah, mawaddah, warrohmah). Dan pemaknaan cinta yang hakiki ditujukan untuk Alloh.

Beliau juga menyebutkan bahwa, pernikahan itu sebagai proyek peradaban. Artinya? Yang penasaran boleh comment, atau diterka-terka dulu saja untuk diskusi yah.

Okee, ada penutup yang sangat bagus nih dari slide yang diberikan oleh beliau:
tak terlalu tinggi cita-citaku. Impianku kita punya rumah di atas gunung. Rumah yang sederhana seperti pondok. Hawanya bersih, sejuk dan pemandangannya indah. Kau tanam bunga-bunga dan aku menanam sayur sendiri. Aku kumpulkan muda mudi kudidik mereka menjadi patriot sejati”
(Surat Cinta Bung Tomo kepada Lies, istrinya).

  1. Bachtiar Natsir
Ustadz yang menggagas adanya APWA ini, sudah bisakah ditebak apa yang diampaikan oleh beliau? Hehe, ayo guys, apa? Nyerah? Okee deh, aku jabarin yaa, karena memang juga sembari ngantuk-ngantuk (efek belom sarapan juga kali yah, :P)

Si Ustadz menjelaskan tentang tahapan yang dilalui dalam pernikahan, apa saja?
Aku dulu pernah janji akan membahas yaa, tapi maaf guys belum sempat semuanya, jadi ini juga ak pending ya neranginnya, kalian mencari-cari saja dulu infonya dari yang lain. Okeee??? Biar lengkap saja nanti pembahasannya. Wait yaa ladies-ladies and guys-guys.

  1. Salim A Fillah
Ustadz Salim A fillah mengisi setelah makan siang, dank arena waktu siang yang lumayan lama (plus solat, dan aku sedang tidak solat), maka waktu setelah makan aku gunakan untuk tidur di kursi, 15 menit yang berkualitas, dan Alhamdulillah saat sesi setelah makan siang ini, aku gak ngantuk, :D, banyak menyimak dan semoga bermanfaat yaaa pastinya.

Okee, kalau aku melihat, memakan dan kemudia mencerna dari seorang Ustadz Salim A Fillah, beliau sangat-sangat puitis dan maybe romantic. Dan hari ini, saya melihat beliau secara langsung, biasanya hanya mengikuti kuliahnya di twitter (you can follow his @salimafillah).

Okee, back to topic, menurutku, apa yang beliau terangin lebih ke psikologis dalam menghadapi perbedaan antara suami dan istri saat nanti berumah tanga. Karena memang suami dan istri kan berbeda yaa, pria dan wanita gitu loh, dan pasti wataknya pun berbeda, perlakuan kepada masing-masingnya juga berbeda, dan mereka mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mengungkapkan amarah, uneg-uneg, kesenangan, keromantisan dalam hubungannya dengan pasangannya. Bukan begitu?

Karena memang struktur otak pria dan wanita yang berbeda, jadi terdapat perbedaan dalam menyampaiakan, sperti yang aku apparin di atas. Contohnya nih, wanita itu jika ada masalah, memang sudah menjdai wataknya, dia membutuhkan tempat untuk mencurahkan persoalannya, baik itu nantinya ada solusi atau tidak, akan tetapi wanita jika ada amsalah pasti akan lega jika sudah membicarakannya. Berbeda dengan pria, terkadang jika ada masalah mereka cenderung diam, kenapa? Karena memang mereka tidak ingin membahasnya, disamping itu untuk mencari solusi, apabila dia didesak untuk menjawab, ujung2nya adalah si pria tetap diam dan mungkin sedikit tidak enak, nah disini, pasti si wanita merasa tidak dihargai dan tidak dipercaya sebagai tempat curhat. Hmm, berabe kan kalo udah gini?

Okee, dari ustadz, solusinya, yaa kalian harus mempunyai, mencari dan selalu belajar untuk mengenal dan menghadapi pasangan kalian masing-masing, karena tidak semua orang dapat diperlakukan dengan satu cara tertentu.

  1. Asma Nadia
Bunda yang satu ini, aku sudah menjadi idolanya sejak lama. Buku-bukunya, usahanya, dan visinya untuk membuat 100 rumah baca asma nadia, amat sangat membuat lebih kagum kepada beliau. Muslimah yang sukses dengan segala kesibukannya. Penulis, pengusaha, petualang, motivator dan lain lain.

Beliau pada seminar ini menerangkan bagaimana “agar sakinah bersamamu”. Jadi bagaimana trik dan trik apa saja yang dicari dari pasangan, agar bisa sakinah bersama-sama.

Apakah hanya dengan harta? Kecantikan? Kemapanan? Ketampanan?
Untuk kemapanan, setiop orang mempunyai standar masing-masing, dan agar dapat sakinah bersamamu, setiap pasangan harus mempunyai visi dan misi yang sama untuk menuju syurga. Kucinya adalah “no excuse”. Yaa, tidak ada alasan yang tidak bisa dilakukan untukmenuju pernikahan yang dijalani. Setiap masalah, tanggapi dengan “no excuse” karena, apabila terlalu banyak alasan, kita hanya akan terpaku pada alasan-alasan dan kemungkinan-kemungkinan yang kadang tidak sesuai dengan kehendak kita, atau memaksakan keinginan yang sesuai dengan kehendak kita saja, tanpa memperhatikan perasaan atau dampak yang akan timbul dengan pemaksaan kehendak kita.

Kesimpulan dari isi seminar bunda asma nadia adalah “mencari istri atau suami tidak hanya sekedar cinta, atau bahkan harta, akan tetapi bagaimana caranya untuk sama-sama mempunyai visi yang sama agar bisa sakinah sampai ke syurga

Kemudian setelah keempat pembiacara selesai menyampaikan semua materinya, giliran acara do’a dan penutupan. Do’a dipimpin oleh Ustadz Bachtiar Natsir langsung, dan penutupan diisi dengan semua panitia maju ke depan podium. Alhamdulillah.


Okee ladies and guys, berhubung sudah malam dan besok adalah senin, aku cukupkan yaa sharingnya. insyaAlloh, next time kita sambung lagi. Fyi, no photos, -__-".

Jakarta, 14 April 2013, 20.00 PM