Ketika anak gadisnya merantau lebih jauh

|

Surat Cinta Untuk Abah (bagian 3)
 

Tak bosannya aku menceritakannya, lelaki hebatku. Dialah abahku. Sosok pria yang sangat aku sayangi dan aku rindukan saat ini (ini Ramadhan dan sudah berapa lamanya aku tidak puasa dirumah sendiri, L ). 

Abah, bagaimana kabarmu saat ini? Aku berharap engkau sehat selalu. Ini Ramadhan abah, dan selalu kuingat setiap episode dalam Ramadhan ketika aku kecil sampai sekarang. Iyaa abah, anak gadismu sudah merantau lebih jauh lagi dan sudah lama pula meninggalkan kota kecil itu.

Semenjak kelulusan dari UNS, tepatnya dua minggu setelah wisuda aku langsung terbang (beneran terbang, pertama kali dengan menggunakan pesawat, tak apalah di cap ndeso atau bagaimana karena memang inilah adanya). Anak gadismu terbang abah, ke barat pulau Jawa, ke kota yang penuh dengan hiruk pikuk sepanjang Indonesia. Anak gadismu ke Jakarta abah, sesuai dengan mimpinya. Bekerja ke perusahaan yang memang diinginkannya sejak dulu. Bagaimana perasaanmu abah? Melihat anak gadismu pergi lebih jauh lagi dari sisimu? Anakmu jadi anak Jakarta abah.

Memang begitu cepat proses aku bekerja dari wisuda, ini karena aku sudah mencari-cari pekerjaan sebelum sidang. Bahkan, sampai pembimbingku mencariku karena aku tidak pernah konsul skripsi. Maafkan anak bimbingmu ini Pak. Jujur saat skripsi merupakan saat terberat dalam masa kuliahku, bukannya masalah pendidikannya, akan tetapi masalah “lain” yang hampir menguras semua pikiran, jiwa dan raga (ceilleee segitunya). Setiap mahasiswa pasti mempunyai problematikanya sendiri, tak terkecuali aku. Saat dimana kita ditempa untuk dewasa, membedakan mana logika dan mana hati. Saat dimana kita harus mengambil keputusan dan sikap akan sesuatu masalah “itu”. Ahh, aku yakin kalian semua mengalaminya, cinta. Masalah apalagi yang lebih pelik bagi seorang mahasiswa dibanding cinta? (disamping skripsi tentunya). Disaat itulah aku mencari semacam “pelampiasan” dengan mengikuti jobfair di Yogya, Solo dan Semarang (Joglosemar). Akan tetapi, sebagai anak dan mahasiswa yang baik aku tersadar, aku harus menyelesaikan kuliahku, segera. Aku memang punya target, not over 5 years dan berhasil, Thx God. 4 tahun 4 bulan, saya resmi lulus menyandang gelar Sarjana Teknik. Abah, anakmu lulus kuliah loh. How proud of you bah, :*.

Balik ke topic merantau dan bekerja. Seingetku, aku tidak sempat pulang dulu kerumah, pure dua minggu itu aku di Solo. Mengurus semua kebutuhan, packing-packing barang yang mau dibawa ke Jakarta, barang yang akan dikirim ke rumah. Abah, anakmu seneng sekaligus sedih. Abah gimana? Khawatirkah padaku yang semakin menjauh dari kota itu?

Sebulan pertama, betapa seringnya kalian menanyakan kabarku, bagaimana lingkunganku dan bagaimana kehidupan baruku itu. Tiap weekend selalu buat telpon abah dan ibuk. Berlama-lama, menanyakan pertanyaan yang isinya hampir sama. “sudah makan dek? Makan pakai apa tadi? Gimana kerjaannya? Lancar kan? Sama boss baik-baik aja kan?”. Ahh, obrolan yang tidak membosankan. Bahagianya menjadi anakmu, anakmu yang selalu dianggap masih bocah meski usia sudah kepala dua. Tenang abah, anakmu ini mempunyai keluarga baru disini.

Lambat laun, barulah abah mengerti, betapa mobile nya pekerjaanku. Pergi dari satu kota ke kota yang lain. Abah, anakmu jalan-jalan terus loh kerjaannya :D (judulnya jalan-jalan, tapi tetap aja isinya kerja yang bonus jalan-jalan. Alhamdulillah abah, ini kan pengennya anakmu dari dulu). Setiap mengunjungi satu kota, tak lupa kubelikan oleh-oleh khas sana, entah peci, kaos atau apapun buatmu abah. Semoga abah suka ya. Bila dibanding dengan apa yang sudah abah dan ibuk beri sampai saat ini, itu hanya sebagian butiran kecil pasir di samudera.
 
 
"Father is someone who doing everything to fulfill ur needs, asking lot people why u coming home late, protecting you as his diamond daughter, thinking hard for your future and with whom u marry with. he's the one who stalker you most silently"
 
-pic and word from: my friend's twitter, Nur Azizah Vidya-
 
Jadwal rutin pulang aku target setiap minimal 3 bulan sekali, lama memang. Tapi harus maksimal, itulah prinspiku. Jadi sekalinya pulang sekalian ambil cuti berlama-lama. Dan abah, aku tahu meskipun tak secara langsung engkau mengungkapkannya. Perasaan rindu yang menyesap, itu terpancar dari caramu memandangku, menciumiku seperti aku bocah SD yang pulang sekolah dan berhasil memenangkan lomba. Sejelek apapun rumah, dialah tetap rumah. Tempat keluarga berkumpul. Meskipun saat pulang itu berarti saat bagiku untuk beberes dan mendekor ulang interior rumah, tapi itulah rumah. Somewhere that I love most.
 
 
-pic: koleksi pribadi-
 
Abah, ini sudah ramadhan lagi kan. Bagaimana? Masih sukakah abah mengisi kajian rutin di radio gagak rimang? Dulu aku selalu malas jika harus menemanimu. Aku selalu marah-marah karena aku gak bisa segera buka dan makan masakan ibu. Tapi, anak gadismu ini tak bisa menolak. Pasti mau saja diajak ke radio itu, melihatmu dari balik kaca memakai peralatan untuk on air, mengisi kajian sebelum azan maghrib menggema. Abahku keren, J.  Selain permasalahan on air di radio, satu lagi adalah abahku selalu mengajak anak gadisnya ini ikut tarling, taraweh keliling. Karena kakakku sudah merantau dulu, adikku cowok selalu gak mau diajak karena lebih memilih bermain dengan kawan sebayanya. Akhirnya anak gadisnya ini yang ngikut kemanapun abahnya pergi. Kasusnya? Sama dengan on air radio, selalu ngedumel duluan kalau diajak, hehehe. “Maleslah bah, nanti pasti lama dan tempatnya jauh, kan besok adek sekolah”. Alasan klise. Tapi ujung-ujungnya mau juga. Kenapa? Kasian abah kalau harus sendirian, gak ada yang nemenin di perjalananannya (meskipun di jalan anak gadisnya ini banyakan tidur J ).

Abah, ramadhan ini sudah ketiga kalinya aku ramadhan di Jakarta. Dan sebentar lagi berarti lebaran. Sudah tak sabar aku ingin menjejakkan kaki di halaman itu, menuju kamar itu dan ruangan-ruangan itu. Menemuimu, melihatmu berdiri di atas mimbar, menjadi makmummu dan menjadi anak gadismu yang masih sama seperti dulu.



Jakarta, 2 Ramadhan 1435 H

Selepas taraweh, di jam-jam saat aku merindukanmu

5K Run

|
         Lama sekali tidak post disini yaa, hehehe. iyaaa, yang punya blog lagi sok sibuk sama kerjaan, :P. okee, kali ini saya mau cerita sesuatu. pengalaman pertama saya. widih apaan tuh? mau tau gak?
 
        Jadi, ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti lomba lari, iya lomba lari (belagu banget dah, olahraga aja gak pernah) :D. yak, dihari yang sedikit mendung ini tepatnya tanggal 15 Juni 2014, untuk pertama kalinya saya mengikuti lomba lari, tapi rame2 yaa.
 
        Yang ngadain Astra (ex office, :D). kebetulan diajakin sama temen untuk ikutan, yaudah deh ikut aja. meski sambil terpaksa, karena aku emang paling males disuruh lari. Temanya adalah "Indonesia Green Run", kebayang donk isinya ijo2 semua. iyaa, bajunyapun ijo. mau liat? tar yaa, sabar. gambar mah dibawah2 ajaa.. hehehe.
 
        Larinya sebanyak 5K, iyaa 5K. buset dah, udah pucat pasi muka habis lari. ternyata selain dari Astra, ada juga Halo Fit Run. mau tau berapa K? yap, 10K mamen. untung gak diajakin yang sebelah, bias-bias baru start langsung motong jalan, hahahah.. Lari 5K ini berhasil aku tempuh dalam waktu 54 menit 55 detik, not bad buat pemula. wong larinya cuman mpe km1 dan pas km4 kok, :D.
 
        Selain lari, di GBK ini juga dibuka beberapa stand juga loh kemarin, ada ,acem2 lah isinya. trus ujan gedhe banget, agak berantakan jadinya susunan acara. lepas cari sarapan, keliling booth langsung deh nyari taksi buat pulang. tepar men, tuh muka uda merah padam, :D


~ni muka habis lari banget, entahlah pose macam apa itu, :/~
 
 
 
~yang jadi artis hari ini, dedek tannu.. how cute are you dek :*:*:*~
 
~menjelang pulang, narsis dululah. udah sarapan, uda seger buat poto2.. hehehe~
 

 
 
Setelah ikutan acara ini, badan rasanya pegel semua oey pas paginya dikantor. tapi seneng dan jujur... aku ketagihan buat ikutan lagi. ternyata seru juga yah, meskipun hanya lari2 (banyakan jalannya ini, catet yak) tapi euforianya itu loh. badan seger juga.

Tips aja nih buat yang mau ikutan lomba lari:
1. malemnya harus bobo dengan nyenyak, biar seger pas lari
2. sarapan, jangan lupa sarapan. jangan banyak2 juga, biar tetep kuat larinya
3. kalau bias pake aplikasi run (example Nike Run, uda bias didownload di smartphone masing-masing) biar bias tahu waktunya berapa menit dan jarak tempuh
4. dengerin lagu sambil lari gak ada salahnya, malah bias atur tempo buat lari
5. fokus, gak usah liat lawan yang lebih cepet, keder sendiri tar
6. ini sih yang paling penting, latian dulu. sering-seringlah lari sebelum ikutan lomba lari


Jakarta, 16 Juni 2014, 08.30 PM
 

i'm not special, i'm just limited edition :P

|
 
 
picture from: @TipeDarah
 
well, tipe darah. entahlah, aku senang sekali mengamati orang berdasarkan tipe darah mereka. bisa (sok-sok)an asal nebak tipe darah mereka dengan mengamati kegiatan mereka. terkadang bener terkadang salah, namanya juga nebak, ya kan? hehehe.
dan, aku termasuk dalam golongan yang special dan limited edition :P.
yess, goldar aku AB. yang jumlahnya aja dikit banget. tapi sayang belum pernah donor, bukannya gak mau tapi gak pernah bisa, :(
AB ini tergolong tipe darah yang unik, bukan hanya darahnya manusia dan sifatnyapun juga. banyak yang membuat sinomim dari AB adalah Agak Beda, Aneh Banget and so on.
yayaya, sekali lagi aku tegaskan kita bukannya special, hanya limited edition.
well, AB memang goldar yang langka. bias dilihat dari jumlah di atas. betapa sedikitnya populasi AB. dan kebanyakan orang-orang AB itu emang unik sih, cara berpikirnya, kepribadiannya dan tingkah lakunya. xixixi...
 
mau tau? bias aja liat timeline2 nya si @TipeDarah dijamin gak kecewa, dibahas lengkap.
udahan dulu ya, mau balik dulu. macet oey, it's Friday.
 

Mencintai tanpa bisa bersama, apa namanya?

|

Well, cinta. Sebuah kosakata yang sampai sekarang saya cari maknanya dan bentuknya. Dia hanya sebuah kata sifat, yang saya pun belum yakin sudah seutuhnya memilikinya. Iya, cinta itu apa? Yang saya tahu mencintai berarti harus memiliki, harus bersama. Omong kosong jika mencinta tapi tidak mau bersama.

Kita mengaku-ngaku mencintai Alloh atau mengaku ingin mencintaimu karena Alloh. Ahh, sepertinya indah sekali diucap, tapi action-nya? Sudahkah kita melakukannya? Saya tidak ingin menceramahi apalagi menggurui. Sayapun masih hanya sebatas lafal, action? Masih jauh dari sempurna.

Saya mengagung-agungkan bahwa saya sangat mencintai Alloh, namun nyatanya? Saya masih suka mengingkari-Nya. Saya masih suka melakukan hal-hal yang pasti dilarang-Nya. Saya masih suka menduakan cinta-Nya. Duh Gusti, ampuni saya. Saya hanya seonggok daging yang Kau berikan nafas didalamnya, yang Kau berikan hati untuk selalu menimbang mana yang baik dan buruk, tanpa campur tanganMu? Ahh, saya tak sanggup menulisnya, T.T.

Bahkan, untuk menulis ini pun, masih terselip rasa sombongnya saya sebagai manusia yang haus akan pujian dari sesame makhlukMu. Sungguh hinanya saya dimatamu. Apa yang saya cari? Saya hanya mengharap RidhaMu Yaa Illahi Rabbi. Tapi apa yang telah saya lakukan? Saya lebih banyak melakukan apa yang tidak Engkau Ridhai Yaa Rabb, Astaghfirulloh.

Jika kita sudah ber-statement bahwa mencintai harus selalu bersama, lalu kapankah kita mau bersamaNya? Disaat azan memanggil, kita masih sibuk mengurusi kerjaan kita, masih sibuk mengurusi perut kita. Disaat Dia menyedian waktu untuk bercengkerama denganNya disaat tidak ada satupun yangmampu mendengar keluh kisah kita, mendengar tangisan sedih maupun bahagia kita, kita malah sibuk bermimpi dibawah hangatnya kasur. Katanya kalau cinta maunya bersama? Tapi merelakan waktu untuk bersamaNya saja masih malas? Segitu besarnyakah cintamu?

Saya teringat sebuah tulisan dari buku yang ditulis oleh Mba Rindu Ade judulnya “Perempuan Pencari Tuhan”

Tak ada satu cinta pun di dunia ini yang mampu mematahkan hati manusia jika cinta Alloh di atas segalanya.

Sungguh, menduakan cinta Alloh menjadikan cinta itu berhala.

Well, ngeri yaa jika kita mencintai sesuatu melebihi cinta kita pada Alloh. Menduakan cinta kita pada Yang Maha Pemberi.

Ahh, saya tidak mau berpanjang kali lebar. Saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri. Saya saja masih salah memaknai cinta saya padaNya? Apalagi cinta saya pada selainNya? Yaa Rabb, ijinkan saya menulis ini. Berilah saya kekuatan untuk terus menulis apa yang baik.

Sekali lagi, saya menulis ini bukan maksud untuk menggurui ataupun menceramahi. Ada orang-orang yang lebih hebat dari saya. Saya hanya ingiin mengingatkan siapa diri saya, yang tidak lebih seorang makhluk yang dipinjami kehidupan olehNya.

 

Jakarta, 19 April 2014, 06.30 AM

Maafkan aku salah menilaimu.....

|

Siang itu, segerombolan anak kecil tengah bermain kelereng dengan asyiknya di sebuah lapangan desa mereka tinggal, salah satu diantaranya adalah adikku. Ya, dia satu-satunya cewek di antara gerombolan anak-anak itu. Memang, teman yang sebaya dengannya semuanya cowok, di keluargaku dia anak terakhir yang terlahir di dunia sebelum ibu meninggal. Sebenarnya, ayah sangat ingin mempunyai anak laki-laki dari rahim ibu, akan tetapi Allah berkehendak lain, ketiga anaknya semuanya perempuan.

Selesai bermain, adikku langsung pulang dan menemui ayah yang sedang berkebun, mereka sangat akrab dan bahkan tak pernah berpisah dalam waktu yang lama. Ayahku terkenal sebagai seorang yang keras, aku dan kakakku tidak begitu dekat dengan ayah, hanya adikku saja yang bisa merebut hati ayah. Setiap kali aku tanya ibu, kenapa ayah tidak bisa memanjakan kami ibu seperti ayah memanjakan Dhea adikku, ibu selalu menjawab, ” ayah capek sayang setelah bekerja seharian, mungkin besok ayah bisa bermain bersama kamu dan kakak”. Aku mengangguk saja dan berdo’a sebelum tidur semoga hari berikutnya ayah mau mengajak aku dan kakak bermain bersama, akan tetapi hal tersebut tidak pernah terjadi sampai sekarang aku sudah menginjakkan kaki di perguruan tinggi negeri di kota Budaya.

Aku merasa bahwa ayahku orang yang paling jahat sedunia, orang yang tidak pernah memberikan kasih sayangnya kepada anaknya, pilih kasih dan tidak pernah menuruti apa kemauanku dan kakakku. Akan tetapi, kakakku tidak pernah ambil pusing, mengingat dia sudah bahagia dengan keluarga barunya yang baru terbina kurang lebih 2 bulan yang lalu dan ikut merantau ke luar negeri bersama suaminya yang bule. Bagiku, hanya ibu yang paling mengerti dan memahami keinginanku. Saat ibu pergi meninggalkan dunia yang penuh fana ini, ak tidak tahu harus bersandar kemana untuk dapat mencurahkan segala kesuh kesahku.

Aku tidak pernah tahu kenapa ayah sangat membenciku dan tidak pernah mau bicara kepadaku, bicaranya hanya seperlunya dan itupun tidak banyak. Kalau aku pikir-pikir, sebagai seorang anak, aku cukup dapat diandalkan, aku bisa diterima di jurusan kedokteran, selain itu aku aktif mengurus bisnis ibu yang membuka salon dan spa yang berdiri 5 tahun lalu, bahkan di bawah pengawasanku, salon dan spa tersebut kian laris dan berkembang. Sedangkan adekku? Dia hanyalah seorang bocah kecil yang baru lahir didunia 8 tahun yang lalu didunia, bahkan saking tidak mau pedulinya aku dengan adekku, aku tidak tahu kalau dia sekarang sudah menginjak usia 8 tahun. Kegiatannya sehari-harinyapun aku tidak tahu, yang aku tahu saat pulang malam kerumah dia sudah tidur disamping ayah dan paginya dia sudah ke sekolah, saat sore kebetulan aku pulang dia sedang jalan-jalan bersama ayah atau kalau enggak seperti hari ini bermain kelereng dengan teman-temannya.

Aku menjadi asing di rumahku sendiri, seakan-akan rumahku adalah nerakaku. Ya, tak banyak yang bisa kuperbuat, yang bisa kulakukan kalau aku kelamaan di rumah adalah hanya menghabiskan waktu untuk meliaht keharmonisan yang tidak seimbang. Akan tetapi, demi menjalankan amanah ibu, aku tetap pulang kerumah dan mengurusi segala urusan rumah, dan tetap harus menyayangi ayah dan adekku. Ibu, apa tidak salah? Apa yang aku dapat ibu? Hanya sakit hati...huhuhuuu...

 
***


Suatu hari, adekku kejang-kejang. Saat itu aku sedang tidak ada kuliah dan kebetulan salon dan spa juga sedang sepi jadi aku memutuskan untuk di rumah sebentar. Ayah sedang pergi bekerja. Awalnya aku panik, karena sebagai kakaknya aku bahkan tidak tahu kalau adekku bisa sakit dan kejang-kejang seperti itu. Saat itu, aku langsung membopongnya masuk ke mobil dan menuju rumah sakit. Ayah yang mendengar kabar tersebut langsung meluncur dan menunggui adekku dengan penuh kasih sayang di rumah sakit. Dalam hati, aku menangis. Ayah, bisakah engkau berbuat ini kepadaku??

Selama 10 hari Dhea opname, lalu diijinkan pulang. Ayah pergi ke Singapura, katanya sedang ada urusan bisnis. Aku dengan ikhlas merawat adekku. Entah alasan apa yang mendorong aku untuk mau merawatnya, sebelumnya bahkan untuk bertatapan mata dengannya aku tidak mau. Tapi, saat kulihat dia tergeletak tak berdaya di rumah sakit aku begitu sadar bahwa aku sangat menyayanginya. Ya, terlepas dari itu, aku tidak akan pernah dapat menjadi seperti adekku. Seorang gadis kecil yang dengan rela mau mendonorkan salah satu hatinya untuk kakaknya yang tak tau malu ini. Ternyata seseorang yang telah mau mendonorkan hatinya tak lain adalah adek kandungku sendiri, yang dulu begitu aku benci karena alasan lebih dimanja ayah. Benar saja ayah sangat memanjakan dan melindunginya, terlebih untuk mencegah agar aku tidak tahu siapa pendonorku. Maafkan aku Dhea, dan maafkan aku ayah telah salah menilaimu. Mulai hari ini aku akan selalu menyayangimu dan Dhea. Tak ada orang hebat lain di dunia ini selain kalian berdua. Saat ayah pulang nanti, izinkan aku menciummu dan memelukmu ayah. Tanpa terasa air mata menetes dengan deras dari kedua pelipis mataku.
Dhea yang melihatku menangis lantas mendekatkan ujung jari-jarinya untuk membersihkan air mata yang sudah telanjur menetes. dia tersenyum simpul seolah mengatakan "jangan sedih kakakku" 

 
***


Sudah 3 bulan ini ayah pergi ke Singapura. Dan sejak 3 bulan ini pula aku selalu merasa sangat merindukannya. Kapan pulang ayah? Sudah tidak sabar aku menunggu kedatanganmu. Aku yang sangat sibuk co-ass keluar kota dan daerah-daerah pedalaman hanya bisa memantau Dhea lewat skype, chat dan media sosial lainnya. yaa, semua kulakukan agar segera lulus menjadi dokter, dan melanjutkan mengambil specialist penyakit dalam sesuai dengan permintaanmu ayah. Batinku gembira.

Dhea semakin hari semakin membaik, tumor yang mengendap di kepalanya berhasil diangkat oleh tim dokter. Kini, setiap kali aku pulang dari pedalaman tempatku co-ass selalu kusempatkan mengajak Dhea jalan-jalan.

Hari ini, Dhea mengajakku pergi. Aku tidak tahu dia mengajakku kemana. Yang aku tahu, aku harus menyetir sesuai dengan petunjuk arah yang dilantunkan pelan dari bibir mungilnya. Aku kaget saat berhenti, ternyata di tempat pemakaman umum dimana ibu dimakamkan. Kita nyekar bersama dan berdo’a untuk ibu.

Lalu adekku mengajakku berjalan kira-kira 100 meter dari tempat makam ibu. Lalu berhenti di sebuh batu nisan yang masih basah tertimpa hujan semalam. Aku melihat nama yang tertera disana

SUROSO

Lahir 2 Februari 1956

Wafat  6 Maret 2011

Ak memandang dhea dengan heran. Dhea lalu memelukku.

”Maafin ayah ya Kak, selama ini ayah gak bisa menyayangi kakak seperti ayah sangat sayang sama Dhea”

Hanya itu yang diucapkan Dhea. Dia lalu pergi berjalan menjauh dariku, membiarkan aku yang masih tergugu di depan makam ayah. Ada sebuah buku bersampul hitam tergeletak disana, aku mengambil buku itu lalu menoleh ke Dhea. Dhea mengangguk. Aku berharap semoga semua tandatanyaku terjawab disini. Lalu aku mengikuti langkah Dhea dan menggandengnya dengan erat menuju mobil.

Ingat pepatah: ”kasih sayang anak hanya sepanjang galah, kasih sayang orang tua sepanjang masa”......

Aku berjalan lunglai setelah dari makam. Ayah, maafkan aku. Anakmu yang tak tahu diri ini. Desisku pelan.

 

Solo, 10 Agustus 2012

 

SMS (2)

|

 
Mataku yang berkunang-kunang, seakan membuka semakin lama semakin melebar. Ada sejumput cahaya dari atas yang berpendar kekuningan, menghiasi sebuah ruangan yang serba hijau, ada sebuah meja kecil di pojokan  ruangan lengkap dengan setumpuk buku-buku tebal berjajar rapi.

“Dimana ini?” batinku bertanya sambil kupegang kepala yang masih agak sakit.

Seseorang mengetuk pintu dan membukanya. Aku terperanjat. Seseorang yang beberapa bulan ini selalu mengusik hidupku. Hei, kenapa dia ada disini, ini dimana. Batinku berontak.

Dia berjalan pelan-pelan sambil membawa sebuah nampan berisi piring dan gelas. Mataku sudah tidak sanggup menatap apa yang ada di dalamnya. Dia tersenyum dan semakin mendekat ke tempat tidur. Aku semakin menjauh ke pinggir sisi ranjang yang lain. Jelas terlihat wajah ketakutan padaku.

 “kamu tadi pingsan dikampus, dan kampus uda sepi. Aku bingung bawa kamu kemana, jadinya aku bawa kerumahku. Maaf ya, sekalian ada yang ngurus. Si bibik” tanpa diminta dia menjelaskan apa yang ada dipikiranku.

“buruan gih dimakan, pasti laper kamu tuh” katanya sambil menaruh nampan itu di meja. Semerbak aroma soup dan teh anget menyembul. Wajahku langsung berubah seperti orang yang gak pernah makan seminggu. Dan tanpa sadar, dia masih berdiri di dekat pintu. Melihatku berulah seperti anak kecil mendapatkan balon atau permen dari mamanya. Aku menoleh dan memsang muka sedikit cemberut. Dia buru-buru menutup pintu kamar.

Setelah dia keluar, akupun langsung melahap habis makanan itu tanpa sisa. Benar-benar lapar yaa nak, kataku sambil mengelus lembut perut.

 ###

Setelah kejadian itu, ku tak pernah absen main kerumah Nadilia Kesumo itu. Yaa, cowok yang dari awal mula aku sangat membencinya entah sekarang rasa apa yang ada di hatiku. Bisa saja hanya kagum atau memang aku sayang? Ahh, aku hanya merasa nyaman saja bila bisa dekat-dekat terus disampingnya, itu saja.

Ternyata lelaki yang dulu sangat aku benci bisa mengubahku seperti ini. Selama kurang kurang lebih tiga bulan ini, kami kerap terlihat bersama. Entah itu dikampus ataupun di tempat-tempat manapun yang penuh berisi buku. Yaah, bisa dibilang kita adalah nerd. Benar-benar kutu buku. Dalam sehari bisa kita melahap buku-buku yang ada dalam sekejap.

“Dil, punya koleksi buku baru apa?” pertanyaan retoris yang kusampaikan di gagang telepon malam ini.  Karena hamper semua buku yang ada dikamarnya sudah kita habiskan bersama, saling mengisi dan mendiskusikan apa-apa yang ada di dalam buku tersebut.

Nadilia Kesumo, cowok yang selama ini kukenal sangat santun dan sangat pemilih dalam penggunaan kata-kata itu, tak pernah sedikitpun berkata yang sedikit membentak atau apa. Dia dirumah hanya bersama pembantunya. Dia sekalipun tidak pernah bercerita tentang keluarganya, akupun bahkan tidak pernah mau tahu. Setiap kita ketemu hanya membahas buku dan buku.

Aku hanya melihat fotonya bersama sang ayah di sudut meja kecil hijaunya. Foto yang diambil didepan gedung sate Bandung. Sebuah harmonisasi yang kental sekali antara bapak dan anak. Dan hey, dimanakah ibunya?

“mama sudah meninggal ve, sejak aku lahir mama sudah ndak ada. Itu yang papa bilang” jawab Nadil sambil masih menghabiskan sisa-sia mie ayam di mangkuknya, di sebuah sore di pojokan kantin kampus.

“maaf”

Dia menggeleng lemah “nevermind”

“papaku juga dil, sudah ndak ada sejak aku lahir” kataku sambil melihat ke atas. Menerawang bagaimana mama menceritakan bahwa papa sudah tidak ada di dunia ini.

Kami sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Menikmati setiap episode yang terputar dari rekam memori otak. Antara yang satu dan lainnya yang tak tahu apalah itu isinya.
 
###

Entah apa yang terjadi pada Mamah sejak hari itu. Hari dimana aku membawa Dilla main kerumah. Semua berbeda, semuanya semu, semuanya berantakan. Tak ada lagi gairahnya untuk bekerja, tak ada lagi gairahnya untuk menulis. Mamah, apa salahnya Dilla? Tak bisakah aku berteman dengannya? Kita itu cocok, kita mempunyai hobi yang sama, dan kita mempunyai mimpi yang sama. Protesku malam itu setelah Dilla pamit pulang kerumahnya.

Mamah hanya menjawab dengan pandangan sinis dan membanting pintu masuk ke kamarnya. Akupun tak bisa menahannya jika sudah seperti itu. Selama aku hidup, baru kali ini aku melihat mama semarah itu padaku, sangat marah.

 ###

Sebulan setelah itu, kesehatan mama menurun drastic. Tuhan, aku tidak pernah melihat mama seburuk ini kondisinya, batinku saat menunggui mama dirumah sakit selepas pingsan di kantornya sehari sebelumnya.

Dokter bilang jika mama mempunyai penyakit jantung. Bahkan akupun tak tahu selama ini. Ma, kenapa gak pernah cerita? Isakku disamping mama dengan dipenuhi seluruh alat disekujur badannya. Seminggu, waktu yang teramat singkat bagiku untuk mengetahui penyakit mama.

“Ma, maafin veraaa ma. Vera kan mau ngajak mama ke museum minggu ini, kenapa mama malah sakit?” aku tak kuasa menahan air mata yang mengalir deras begitu saja.

Tangan mama bergerak perlahan menyentuh jariku. Aku langsung bangun dan menatap matanya yang sayu. Dia tersenyum tipis. Aku mendekatkan telinga ke samping, mama mengucapkan sesuatu.

Aku kaget, tapi aku akan menuruti permintaannya itu.

Entahlah, apa yang akan mama lakukan. Seribu pikiran memenuhi kepalaku malam ini. Malam ini giliran bibi yang menjaga mama, aku pulang ke rumah untuk istirahat, sudah dari kemarin aku belum kerumah.

 ###

Siang itu, saat aku menunggui mama dirumah sakit seseorang masuk ke kamar rawat inap mama. Orang yang sangat membuatku bahagia akhir-akhir ini, siapa lagi kalau bukan Dilla. Akan tetapi setelah itu, ada seseorang lagi mengikuti di belakangnya. Seorang laki-laki berbadan tegap dengan kumis dan jenggot yang sudah agak beruban.

Kubangunkan mama perlahan. Sedikit agak berat membuka mata dan akhirnya mampu membuka sempurna. Mama perlahan menatapku, Dilla dan lalu lelaki itu. Entahlah dia siapa, tapi sekilas aku pernah melihatnya ada di jejeran foto di rumah Dilla. Aku langsung mahfum jika itu adalah papanya Dilla, yang baru pulang dari Milan.

Mama tersenyum getir melihat laki-laki itu. Begitupun lelaki itu. Dia lantas terduduk dan memegangi tangan mama. Kulihat, ada buliran tipis air mengalir diantara mereka berdua. Aku dan Dilla lantas berpandangan aneh, tanpa sadar air mata keluar juga dari mataku. Aku berlari keluar kamar, Dilla mengejarku.

Diluar ruangan, aku tak kuasa lagi. Tangisku semakin menjadi. Dilla menjajari dudukku. Dia mengelus perlahan punggungku.

“kamu udah tau dari kapan?” tanyaku yang persis seperti orang menjerit.

“2 hari lalu, saat papa pulang…bla..bla.. blaa…”

Aku tak sanggup lagi mendengar penjelasannya. Yang kuingat setelah itu, semuanya didepanku gelap gulita. Tanpa cahaya.

 ###

Ruangan kantor ini dan Vera berjalan perlahan, masih mengeja satu demi satu isi penjelasan SMS itu. Dari lelaki itu……………

 

 
Jakarta, 16 Maret 2014
Sorry ya baru sempat menyelesaikan part 2 nya, sibuk oey, :D

 

 

Bahagia Untukmu

|
Hari itu, sahabat-sahabatmu banyak yang memberitahuku mengenai rencanamu. Sebuah rencana indah akan masa depan, membangun sebuah keluarga. Bukanlah sebuah rencana yang main-main menurutku. Itu sebuah keputusan yang akan dijalani sepanjang hidup, tanpa bisa ditawar lagi. Keputusan spektakuler yang pasti sudah matang difikirkan.

Hari itu, tidak seperti hari biasanya. Akupun menyadarinya. Ada sesuatu yang aneh dihatiku. Bukan, bukannya aku ingin protes atau memarahimu. Aku hanya ingin menyenangkan hatiku. Hatiku bersemi, hatiku tersenyum.

Inikah jawaban atas semua do’a? inikah jawaban atas semua pertanyaan selama setahun terakhir? Inikah jawaban atas sebuah perjalanan itu?

Yaa, di hari itu. Tidak cukup satu dua orang yang memberitahuku. Akupun tersenyum. Tersenyum untukmu. Aku disini mendo’akanmu, agar bahagia selalu. Tanpa perlu kau tahu dari siapa berita itu. Aku tetap akan mendo’akanmu.

Katamu, yang lalu biarlah berlalu. Lupakan. Tak ada yang perlu dikenang. Sudah, aku sudah melakukan itu, tak perlu lagi kau ragu.

Tuhan, sematkanlah selalu kebahagiaan untuknya dan keluarganya. Tugasku untuk menemaninya telah usai, tak ada yang perlu aku khawatirkan, tak ada pula yang perlu aku cemaskan. Aku percaya, siapapun dia sekarang, itulah yang dia inginkan. Yang akan selalu bersamanya memeluk mimpi-mimpinya.

Kamu, masa kualiahku. Baik-baik ya, ;)

 

Jakarta, 7 Maret 2014
Beberapa minggu setelah tau kamu mengucapkan janji suci itu, ;)